Selain hidup dalam keterasingan dari dunia luar, Tara juga menghadapi lingkungan rumah yang abusif. Salah satu kakak laki-lakinya, Shawn, sering melakukan kekerasan fisik dan emosional terhadap Tara. Namun, karena isolasi yang ketat dan kurangnya dukungan luar, kekerasan tersebut kerap dinormalisasi atau diabaikan oleh anggota keluarga lainnya. Tanpa pernah menginjakkan kaki di ruang kelas sebelumnya, Tara belajar secara otodidak selama berbulan-bulan untuk mengejar ketertinggalan materi ujian masuk perguruan tinggi (ACT). Berkat kerja kerasnya yang luar biasa, ia akhirnya diterima di Brigham Young University saat usianya menginjak 17 tahun.