Ibadah yang sejati menuntut persembahan hidup yang utuh, hati yang hancur, dan kasih yang tulus kepada Allah serta sesama. Namun, sepanjang sejarah keagamaan—mulai dari umat Israel kuno hingga zaman modern—ibadah sering kali direduksi menjadi sekadar rutinitas lahiriah, formalitas ritual, atau alat untuk membenarkan diri sendiri. Ketika ibadah terlepas dari hubungan rohani yang hidup dengan Allah, ia berubah menjadi "bahaya rohani" yang menumbuhkan kemunafikan, kesombongan rohani, dan kekerasan hati terhadap sesama manusia.