Sepanjang sejarah peradaban, agama dan filsafat telah menjadi dua pilar utama yang membentuk cara pandang manusia (worldview). Di masa lalu, filsafat dan agama sering kali berjalan berdampingan atau saling berkelindan erat—di mana akal budi filosofis digunakan untuk menjelaskan atau mempertahankan doktrin keimanan. Seiring berjalannya waktu, terutama memasuki era modern dan posmodern, terjadi pergeseran besar: pemikiran manusia beralih dari pendekatan yang sepenuhnya teosentris (berpusat pada Tuhan/agama) menuju antroposentris (berpusat pada manusia, sains, dan rasionalitas sekuler), memicu dialektika yang terus berlangsung hingga hari ini.