Buku ini menyoroti hambatan komunikasi teologis antara tradisi pemikiran Barat yang cenderung logis-analitis dengan tradisi budaya Asia yang lebih menekankan pada komunitas, penghormatan, dan narasi. Penulis berargumen bahwa banyak upaya penginjilan atau pengajaran teologi di Asia mengalami kendala bukan karena pesan dasarnya salah, melainkan karena cara penyampaiannya yang "terlalu Barat" sehingga terasa asing atau bahkan tidak relevan bagi masyarakat Asia.