Buku ini berangkat dari realitas bahwa kepemimpinan di masa depan bukan lagi tentang "siapa yang paling keras perintahnya", melainkan "siapa yang paling dalam pengertiannya".
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan (era disrupsi), buku ini menyoroti bahwa banyak pemimpin mengalami kegagalan bukan karena mereka kurang pintar, tetapi karena mereka kehilangan koneksi manusiawi dengan timnya.