Novel ini mengisahkan tentang perjuangan hidup dan persahabatan 10 anak dari keluarga miskin di Pulau Belitong yang bersekolah di sebuah sekolah dasar Islam tertua, SD Muhammadiyah Gantong. Sekolah tersebut kondisinya sangat memprihatinkan—nyaris roboh, berlantai tanah, dan beratap bocor. Bahkan, sekolah tersebut hampir ditutup oleh dinas pendidikan jika tidak berhasil memenuhi kuota minimal 10 orang murid di hari pertama pendaftaran